Selasa, 11 November 2014

karya tulis ilmiah



PENGARUH KEJIWAAN ANAK AKIBAT BROKEN HOME
AYU PUTRI NINGSIH
Universitas Muhammadiyah Palangka Raya

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui masalah remaja akibat broken home. Masalah Remaja adalah masa yang dialami oleh seseorang tanpa terkecuali yang sifatnya labil. Mereka lebih sering bertindak sesuai dengan keinginannya tanpa mau berfikir terlebih dahulu dan kebayakan akan merugikan orang lain dan pastinya dirinya sendiri, karena yang mereka fikirkan adalah kesenangan semata tanpa berfikir akibatnya dan disinilah peran orang tua dibutuhkan, karena orang tua adalah orang yang paling dekat dengan anak dan orang tua juga yang mempengarui anak dalam berkepribadian.
Kata kunci : kejiwaan anak, broken home, masalah remaja

PENDAHULUAN
Pengertian Broken Home adalah kondisi keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan layaknya keluarga yang rukun, damai, dan sejahtera karena sering terjadi keributan serta perselisihan yang menyebabkan pertengkaran pada perceraian. Kondisi ini akan menimbulkan dampak yang besar terutama anak-anak. Anak biasa menjadi murung, sedih berkepanjangan dan malu, anak juga kehilangan pegangan serta panutan dalam transisi menuju kedewasaan. Karena orang tua merupakan contoh dan panutan serta teladan bagi perkembangan anak dimasa remaja, terutama pada perkembangan psikis dan emosi, anak perlu pengarahan, kontrol, serta perhatian yang cukup dari orang tua. Faktor yang mempengaruhi broken home adalah kedewasaan sikap orang tua yang tidak ada, orang tua yang kurang memiliki rasa tanggung jawab, adanya masalah ekonomi dan hilangnya kehangatan didalam keluarga antara orang tua dan anak, serta masalah pendidikan.
Paham Empirisme Di pihak empirisme tercatat filsuf Jhon Locke yang terkenal dengan teori tabula rasa. Tabula rasa adalah kertas putih bersih yang mencerminkan jiwa seseorang bayi yang baru lahir. Bagaimana keadaan bayi setelah dewasa, tergantung pengalaman yang dituliskan diatas kertas tersebut. Kepribadian seseorang secara umum dapat dinyatakan tercermin melalui sikap, perilaku serta tingkah laku seseorang. Orang yang mempunyai kepribadian baik tentu juga mempunyai sikap , perilaku, budi pekerti yang baik pula. Begitu pula sebaliknyaian yang buruk maka dapat dipastikan , jika seseorang tersebut mempunyai kepribadian orang tersebut buruk pula. Kepribadian dapat terbentuk karena beberapa faktor, diantaranya orang tua dan teman – teman.

PEMBAHASAN

Kenakalan remaja dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang. Dalam perspektif perilaku menyimpang masalah sosial terjadi karena terdapat  penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma social yang berlaku. Di kalangan remaja, memiliki banyak teman adalah merupakan satu bentuk  prestasi tersendiri. Makin banyak teman, makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya.
Menurut (Kartini, 2002:25) penyebab kenakalan remaja yaitu teori biologis, teori psikogenesis, teori sosiologis, dan teori subkultur. Teori psikogenesis adalah salah satu teori yang menekankan sebab-sebab tingkah laku deliquen atau kenakalan dari aspek  psikologis atau kejiwaan. Beberapa faktor yang berangkat dari teori psikogenesis adalah orang tua broken home atau bercerai yang diawali perang dingin dalam keluarga.
Dampak dari keegoisan dan kesibukan orang tua serta kurangnya waktu untuk anak dalam memberikan kebutuhannya yaitu dalam Kejiwaan, Pelampiasan Diri, Refleksi. Seperti contoh narasumber yang disamarkan namanya menjadi Mr.X. dia adalah seorang siswi dari keluarga broken home, dia tinggal bersama ayahnya ketika ibunya memutuskan untuk menikah kembali dengan laki-laki lain. Sejak itu Mr.X kurang perhatian dari kedua orang tuanya. Sejak saat itu pergaulan dengan teman sebayanya bebas, dia sering membolos sekolah, memakai obat-obatan terlarang dan jarang pulang kerumah. Tidak lama kemudian dia tidak melanjutkan sekolahnya, karena hamil diluar nikah. Akan tetapi laki-laki yang menghamili Mr.X tidak mau bertanggung jawab, dia pergi meninggalkan Mr.X hingga akhirnya Mr.X memutuskan untuk pergi dari rumah karena menaggung malu dan mencari pekerjaan. Dia sempat bekerja disalah satu toko, setelah dia melahirkan Mr.X kembali pulang kerumah ayahnya akan tetapi diusir. Sampai sekarang dia masih belum mempunyai seorang suami dan dia bekerja menghidupi anaknya sendiri.
Menurut Rogers (Adams & Gullotta, 1983: 56-57) ada lima ketentuan yang harus dipenuhi untuk membantu remaja yaitu kepercayaan, remaja harus percaya dan yakin bahwa penolong ini tidak akan membohonginya dan bahwa kata-kata penolong ini memang benar adanya. Kemurnian hati, remaja harus merasa bahwa penolong itu sungguh-sungguh mau membantunya tanpa syarat. Kemampuan mengerti dan menghayati (emphaty) perasaan remaja. Kejujuran, remaja mengharapkan penolongnya menyampaikan apa adanya saja, termasuk hal-hal yang kurang menyenangkan. Mengutamakan persepsi remaja sendiri.    

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan permasalahan dan hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut Broken home adalah suatu keadaan dimana suatu keharmonisan rumah tangga yang dipertaruhkan. Istilah "broken home" digunakan untuk menggambarkan keluarga yang berantakan akibat orang tua tidak lagi perhatian terhadap anak-anaknya, baik masalah di rumah, sekolah, sampai pada perkembangan pergaulan anak-anaknya di masyarakat. Dampak dari broken home tidak hanya mempengaruhi hubungan antara suami dan istri namun juga anak. Kejiwaan anak yang buruk adalah salah satu akibat dari broken home yang buruk.  Ketidakharmonisan suatu hubungan terutama dalam keluarga akan berakibat buruk pada anak, karena anak akan merasa terabaikan oleh kedua orang tuanya. Peran ibu di dalam rumah tangga sangatlah penting, terutama dalam mengurus anak dengan penuh kasih sayang.
 Saran yang dapat disampaikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Sebaiknya menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, Kami berharap agar pernikahan itu berjalan dengan sakinah mawadah warohmah, Menjalin komunikasi yang baik akan terjalin hubungan yang baik pula, Sebaiknya sebagai orang tua dan anak harus bisa saling terbuka, sehingga masalah yang terjadi bisa cepat terselesaikan.




DAFTAR PUSTAKA
Sarwono, Sarlito W. 2007. Psikologi remaja. Jakarta: RajaGrafindo Persada
Al-Mighwar, Muhammad. 2006. Psikologi remaja. Bandung: Pustaka Setia
 http://bbawor.blogspot.com/2009/03/pengaruh-broken-home.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar