PENGARUH KEJIWAAN ANAK AKIBAT
BROKEN HOME
AYU PUTRI NINGSIH
Universitas
Muhammadiyah Palangka Raya
ABSTRAK
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui masalah remaja akibat broken home. Masalah
Remaja adalah masa yang dialami oleh seseorang tanpa terkecuali yang sifatnya
labil. Mereka lebih sering bertindak sesuai dengan keinginannya tanpa mau
berfikir terlebih dahulu dan kebayakan akan merugikan orang lain dan pastinya
dirinya sendiri, karena yang mereka fikirkan adalah kesenangan semata tanpa berfikir
akibatnya dan disinilah peran orang tua dibutuhkan, karena orang tua adalah
orang yang paling dekat dengan anak dan orang tua juga yang mempengarui anak
dalam berkepribadian.
Kata kunci :
kejiwaan anak, broken home, masalah remaja
PENDAHULUAN
Pengertian
Broken Home adalah kondisi keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan
layaknya keluarga yang rukun, damai, dan sejahtera karena sering terjadi
keributan serta perselisihan yang menyebabkan pertengkaran pada perceraian.
Kondisi ini akan menimbulkan dampak yang besar terutama anak-anak. Anak biasa
menjadi murung, sedih berkepanjangan dan malu, anak juga kehilangan pegangan
serta panutan dalam transisi menuju kedewasaan. Karena orang tua merupakan
contoh dan panutan serta teladan bagi perkembangan anak dimasa remaja, terutama
pada perkembangan psikis dan emosi, anak perlu pengarahan, kontrol, serta
perhatian yang cukup dari orang tua. Faktor yang mempengaruhi broken home
adalah kedewasaan sikap orang tua yang tidak ada, orang tua yang kurang memiliki
rasa tanggung jawab, adanya masalah ekonomi dan hilangnya kehangatan didalam
keluarga antara orang tua dan anak, serta masalah pendidikan.
Paham
Empirisme Di pihak empirisme tercatat filsuf Jhon Locke yang terkenal dengan
teori tabula rasa. Tabula rasa adalah kertas putih bersih yang mencerminkan
jiwa seseorang bayi yang baru lahir. Bagaimana keadaan bayi setelah dewasa,
tergantung pengalaman yang dituliskan diatas kertas tersebut. Kepribadian
seseorang secara umum dapat dinyatakan tercermin melalui sikap, perilaku serta
tingkah laku seseorang. Orang yang mempunyai kepribadian baik tentu juga
mempunyai sikap , perilaku, budi pekerti yang baik pula. Begitu pula
sebaliknyaian yang buruk maka dapat dipastikan , jika seseorang tersebut
mempunyai kepribadian orang tersebut buruk pula. Kepribadian dapat terbentuk
karena beberapa faktor, diantaranya orang tua dan teman – teman.
PEMBAHASAN
Kenakalan remaja dalam studi masalah
sosial dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang. Dalam perspektif
perilaku menyimpang masalah sosial terjadi karena terdapat penyimpangan
perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma social
yang berlaku. Di kalangan remaja, memiliki banyak teman adalah merupakan satu
bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak teman, makin tinggi nilai mereka
di mata teman-temannya.
Menurut (Kartini, 2002:25) penyebab
kenakalan remaja yaitu teori biologis, teori psikogenesis, teori sosiologis,
dan teori subkultur. Teori psikogenesis adalah salah satu teori yang menekankan
sebab-sebab tingkah laku deliquen atau kenakalan dari aspek psikologis
atau kejiwaan. Beberapa faktor yang berangkat dari teori psikogenesis adalah
orang tua broken home atau bercerai yang diawali perang dingin dalam keluarga.
Dampak
dari keegoisan dan kesibukan orang tua serta kurangnya waktu untuk anak dalam
memberikan kebutuhannya yaitu dalam Kejiwaan, Pelampiasan
Diri, Refleksi. Seperti contoh narasumber yang disamarkan namanya menjadi Mr.X.
dia adalah seorang siswi dari keluarga broken home, dia tinggal bersama ayahnya
ketika ibunya memutuskan untuk menikah kembali dengan laki-laki lain. Sejak itu
Mr.X kurang perhatian dari kedua orang tuanya. Sejak saat itu pergaulan dengan
teman sebayanya bebas, dia sering membolos sekolah, memakai obat-obatan
terlarang dan jarang pulang kerumah. Tidak lama kemudian dia tidak melanjutkan
sekolahnya, karena hamil diluar nikah. Akan tetapi laki-laki yang menghamili
Mr.X tidak mau bertanggung jawab, dia pergi meninggalkan Mr.X hingga akhirnya
Mr.X memutuskan untuk pergi dari rumah karena menaggung malu dan mencari
pekerjaan. Dia sempat bekerja disalah satu toko, setelah dia melahirkan Mr.X
kembali pulang kerumah ayahnya akan tetapi diusir. Sampai sekarang dia masih
belum mempunyai seorang suami dan dia bekerja menghidupi anaknya sendiri.
Menurut
Rogers (Adams & Gullotta, 1983: 56-57) ada lima ketentuan yang harus
dipenuhi untuk membantu remaja yaitu kepercayaan, remaja harus percaya dan
yakin bahwa penolong ini tidak akan membohonginya dan bahwa kata-kata penolong
ini memang benar adanya. Kemurnian hati, remaja harus merasa bahwa penolong itu
sungguh-sungguh mau membantunya tanpa syarat. Kemampuan mengerti dan menghayati
(emphaty) perasaan remaja. Kejujuran, remaja mengharapkan penolongnya
menyampaikan apa adanya saja, termasuk hal-hal yang kurang menyenangkan.
Mengutamakan persepsi remaja sendiri.
KESIMPULAN
DAN SARAN
Berdasarkan
permasalahan dan hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut Broken
home adalah suatu keadaan dimana suatu keharmonisan rumah tangga yang
dipertaruhkan. Istilah "broken home" digunakan untuk menggambarkan
keluarga yang berantakan akibat orang tua tidak lagi perhatian terhadap
anak-anaknya, baik masalah di rumah, sekolah, sampai pada perkembangan
pergaulan anak-anaknya di masyarakat. Dampak dari broken home tidak hanya
mempengaruhi hubungan antara suami dan istri namun juga anak. Kejiwaan anak
yang buruk adalah salah satu akibat dari broken home yang buruk. Ketidakharmonisan suatu hubungan terutama
dalam keluarga akan berakibat buruk pada anak, karena anak akan merasa terabaikan
oleh kedua orang tuanya. Peran ibu di dalam rumah tangga sangatlah penting, terutama
dalam mengurus anak dengan penuh kasih sayang.
Saran yang dapat disampaikan dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut: Sebaiknya menyelesaikan masalah dengan kepala
dingin, Kami berharap agar pernikahan itu berjalan dengan sakinah mawadah warohmah,
Menjalin komunikasi yang baik akan terjalin hubungan yang baik pula, Sebaiknya
sebagai orang tua dan anak harus bisa saling terbuka, sehingga masalah yang
terjadi bisa cepat terselesaikan.
DAFTAR PUSTAKA
Sarwono,
Sarlito W. 2007. Psikologi remaja. Jakarta:
RajaGrafindo Persada
Al-Mighwar,
Muhammad. 2006. Psikologi remaja. Bandung:
Pustaka Setia
http://bbawor.blogspot.com/2009/03/pengaruh-broken-home.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar